Tanya:
Assalamu'alaikum wr. wb, bu ade
Saya, ibu bekerja sudah menikah selama 8 taun dan punya 2 putra. Alhamdulillah kehidupan rumah tangga baik2 saja selama ini. Sampai suatu saat, saya ikut acara kantor suami. Saya melihat ada seorang wanita single yang sepertinya suka menarik perhatian suami (kita sebut si A). Dan saat itu kebetulan ada kejadian yang dimana, saya dan suami bisa ikut serta acara itu atas bantuan A. Sepertinya suami merasa berterima kasih atas bantuan si A sehingga kami bisa ikut acara tersebut. Sejak saat itu, saya perhatikan si A seperti memanfaatkan moment balas budi itu. Saya sampaikan hal itu ke suami, tapi suami berhubung tidak punya niat untuk selingkuh, makanya dia tidak menghiraukan. Suami pun tau saya tidak suka dengan si A. Saya sebetulnya tidak tahu pasti perasaan si A itu terhadap suami saya. Tapi kalau dilihat dari gelagatnya, dia seperti ada feeling terhadap suami. Pernah saya tanya, bagaimana dengan si A. Suami saya bilang, berhubung suami ada di lantai 12 dan si A ada di lantai 7, tidak pernah ketemu. Dan saya percaya itu.
Sampai suatu saat, seperti ada yang membisikan saya untuk memeriksa isi hp suami. Tidak ada sms yang berarti, tapi begitu saya lihat record di received call nama si A itu ada disitu. Berarti si A pernah menelepon hp suami saya. Saya pikir mungkin ini urusan kantor. Kemudian, saya lihat dialled number, ternyata suami pun pernah menelepon ke hp si A. Saya seperti disamber geledek, karena ternyata suami berbohong kepada saya dengan mengatakan kalau suami tidak pernah bertemu tapi ternyata mereka saling menelpon. Kemudian saya konfirmasikan semua ke suami. Ternyata suami mengaku kalau dia sebenernya tidak jujur ke saya takut sayanya marah. Sementara menurut saya lebih baik saya tau dari suami daripada dengan cara seperti ini. Benar saja, ternyata mereka pernah makan siang bareng2 tapi suami ngaku kalau mereka makan siang tidak pernah ber2, melainkan rame2 dengan temen kantornya. Suami pun akhirnya minta maaf atas kejadian ini. Tapi saya sudah merasa dibohongi...saya sakit hati, bu. Karena saya merasa orang terdekat dengan saya saja membohongi saya, bagaimana orang lain. Sebenernya saya percaya sama suami tidak berselingkuh, tapi saya tidak percaya si A. Kalau memang benar si A ada feeling ke suami saya, takutnya dia menggoda suami saya dan akan terjadi hal2 yang tidak diinginkan. Saya juga tidak tau sebenernya perasaan si A, apakah benar dia ada feeling ke suami saya atau hanya kecemburuan saya saja. Saya mohon masukan dari ibu, bagaimana caranya menghilangkan rasa sakit hati saya karena dibohongi suami. Apakah perlu saya telepon si A untuk minta menjauh dari suami saya atau bagaimana. Terima kasih atas perhatiannya.
Jawab:
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Saya sudah membaca uneg-uneg email ibu dan bisa mengerti apa yang telah terjadi.
Cemburu.
Kata orang, cemburu itu artinya cinta. Untuk takaran yang “pas”, perasaan cemburu yang dimiliki oleh seorang kekasih terhadap kekasihnya, merupakan bukti bahwa perasaan cinta masih tetap bersemi di hatinya. Tapi itu dengan penekanan, takarannya harus pas. Kenapa takaran pas saya katakan merupakan sebuah keharusan? Karena, jika takaran cemburu dalam sebuah percintaan itu kurang, maka yang hadir di benak kekasih kita adalah sebuah tanda tanya, “apakah si dia masih mencintai saya?” Ujung-ujungnya akan muncul rasa tidak percaya yang bisa membawa pasangan tersebut ke daerah yang rawan perpisahan. Sedangkan jika takarannya berlebihan, maka yang hadir di benak kekasih kita adalah sebuah tanda tanya lain, “apakah dia tidak mempercayai saya?” Ujung-ujungnya akan muncul sebuah kondisi gerah, terkekang, sesak yang melahirkan sebuah keinginan untuk lepas dan justru mulai bertemu dengan celah untuk lepas dari pelukan erat kekasih pencemburu. Pada beberapa pasangan, yang berkomitment untuk mempertahankan kesatuan mereka, ada sebuah ekstasi tersendiri jika berhasil keluar dari barrier pengawasan si kekasih pencemburu tanpa sedikitpun ketahuan (jadi malah mendorong pasangan untuk bermain kucing-kucingan). Tapi pada banyak pasangan lain, masalah kecemburuan yang berlebihan ini malah bisa membuat mereka terseret ke daerah yang rawan perpisahan. Mana betah terus menerus hidup bersama di atas fondasi kecurigaan, pertengkaran dan rasa saling tidak percaya satu sama lain?
Disinilah letak seninya mereka yang sedang merajut asmara.
Sungguh, jatuh cinta dan mendapatkan yang kita cintai itu sebenarnya sebuah perkara yang termasuh perkara yang mudah dan biasa. Kesulitan dan keluar-biasaan justru terjadi ketika kita harus meneruskan kehidupan sambil terus memelihara agar rasa jatuh cinta itu tidak pernah berubah, dan mempertahankan cinta agar senantiasa bersemi di dalam hati ”masing-masing” (penekanannya masing-masing, karena jika hanya satu pihak saja, yah, artinya kurang berhasil).
Untuk kasus ukhti N, saya merasa yakin sekali bahwa semua perasaan sakit hati dan kecurigaan bahwa suami telah berbohong itu hadir karena ukhti merasa cemburu terhadap suami ukhti. Terlebih setelah dengan mata sendiri ukhti melihat gelagat ada wanita lain yang tampaknya mengagumi suami ukhti. Tapi, dalam perkembangannya kecemburuan yang ukhti miliki ini menurut saya sudah tidak sehat lagi. Mengapa? Karena setelah rasa cemburu itu bercokol dalam hati ukhti, cemburu itu mulai tumbuh subur dengan daun-daun prasangka buruk. Akhirnya, ukhti sendiri yang merasa sengsara karena terus-menerus merasa sakit hati karena merasa suami telah membohongi ukhti.
Baik. Sebelum membaca lebih lanjut, bersama kita ucapkan istighfar terlebih dahulu.
Ukhti. Suami sudah jujur mengakui bahwa dia memang pernah makan siang dengan wanita tersebut. Saya pikir, kejujuran ini harus dihargai. Mana yang lebih baik, terus berbohong atau mengakui? Jika ukhti merasa bahwa jujur adalah sesuatu yang utama, maka ukhti harus mampu di saat yang bersamaan menghadirkan sebuah sikap ikhlas dan sabar mendengar kejujuran itu. Tapi jika ukhti beranggapan bahwa lebih baik tidak jujur yang penting situasi damai dan tenang selama ini tetap terpelihara, hmm…. Saya sarankan ukhti untuk merubah anggapan tersebut. Selamanya, sesuatu yang busuk itu tidak pernah bisa ditutupi. Bahkan meski kita amat piawai menulikan telinga dan membutakan mata sekalipun. Biar bagaimanapun, betapapun pahitnya sebuah kenyataan, kenyataan itu tetap harus dihadapi. Dengan demikian, kembali sikap ikhlas dan sabar lah yang harus dikedepankan.
Dalam hal ini, suami ukhti sudah jujur mengakui dan meminta maaf pada ukhti karena sebelumnya tidak menceritakan hal tersebut. Ayo… maafkan dengan sebenar-benarnya maaf. Artinya, maafkan dengan melupakan segala kekhilafan yang pernah terjadi dan tata kembali langkah ke depan dengan sebuah harapan dan prasangka baik kembali. Jangan dari mulut saja mengucapkan maaf tapi di dalam hati terus mendongkol dan merasa sakit. Itu artinya ukhti tetap menaruh prasangka buruk di dalam hati. Itu artinya, ukhti tetap mendengarkan bisikan syaithan yang terkutuk yang memang berkeinginan untuk memisakan ukhti dan suami ukhti dengan menunggangi celah cemburu dan sakit hati. Ayo ukhti… jangan kalah dengan bisikan syaithan tersebut. Singkirkan semua rasa sakit hati dan prasangka. Kembalilah menjadi istri yang manis dan mau menerima suami apa adanya.
Ukhti dalam hal ini harus percaya satu hal. Yaitu, bahwa semua manusia itu akan diuji ketauhidan dan keimanannya dengan berbagai macam peristiwa di kehidupannya. Bisa lewat musibah yang penuh penderitaan, bisa juga lewat kesenangan dan kemudahan hidup. Dalam hal ini, bisa jadi suami ukhti sedang berusaha melewati ujian tersebut. Dia dihadapkan dengan cobaan berupa kehadiran wanita cantik yang menggoda serta pangkat kedudukan yang lumayan bagus. Ukhti harus membantu suami ukhti agar mampu melewati ujian ini dengan senantiasa mengingatkan suami ukhti bahwa dia punya keluarga dimana tanggung-jawabnya sebagai kepala keluarga terus dituntut; bantu dia untuk senantiasa ingat bahwa kesenangan yang sebenarnya itu adalah segala macam kesenangan yang bisa diperolehnya lewat jalan yang halal dan diridhai Allah (yaitu lewat perkawinan yang sah dan keluarga yang sakinah mawwadah warahmah); ingatkan dia agar tidak terjerumus dalam godaan nafsu yang dapat menggiringnya melakukan hal yang tidak diridhai Allah; dan yang utama, ingatkan dia bahwa ukhti amat mencintai dia dan membutuhkan dia sebagai seorang suami, kekasih dan imam keluarga. Perasaan dibutuhkan (dan saling membutuhkan) inilah yang harus terus dipelihara dalam kehidupan suami istri.
Sedangkan ukhti sendiri, saat ini pun sedang diuji kesabarannya. Apakah ukhti masih mampu mempertahankan sikap sabar menghadapi situasi ini? Masih mampukah ukhti bertindak sebagai seorang istri yang sholehah? Masih mampukah ukhti bersikap sebagai ibu bagi anak-anak ukhti di tengah masalah yang membelit (bisa jadi, tanpa ukhti sadari, kekecewaan ukhti pada suami membawa perubahan dalam bersikap terhadap anak-anak yang tidak tahu apa-apa)?
Semua kekecewaan dan rasa sakit hati yang tetap ukhti pelihara tersebut, tanpa terasa akan mengikis semua rasa cinta yang hadir di antara ukhti dan suami ukhti. Semua hadiah yang suami berikan, kelak akan terasa tidak berarti karena rasa curiga bahwa itu semua dia lakukan untuk menebus kesalahan (padahal bisa jadi suami ikhlas melakukannya untuk ukhti seorang). Semua tindakan manis yang suami lakukan, akan dicurigai sebagai manipulasi untuk menutupi kesalahan. Semua usaha maksimal yang suami lakukan menjadi tidak memiliki arti lagi karena yang ada adalah rasa kecewa dan sakit hati. Aih. Lalu apa yang yang akan ukhti peroleh dari semua ini? Tidak ada! Inilah sisi kezhaliman dari sebuah prasangka buruk yang hadir dari rasa sakit hati dan sifat tidak ingin memaafkan. Akhirnya, suami pun kian lama akhirnya patah semangat dan benar-benar melakukan usaha mencari kesenangan di luar rumah. Bukankah semua kesenangan yang dia inginkan ada di rumahnya sudah sulit ukhti berikan?
Jadi… babat habis semua rasa sakit hati di dalam diri ukhti. Jika terlintas sebuah ingatan tentang kejadian yang menyakitkan hati tersebut, segeralah ambil wudhu dan bacalah Al Quran. Bukan Cuma membacanya tapi juga simak terjemahannya.
Jika terbersit rasa kecewa ketika sedang bersama dengan suami, segeralah istighfar banyak-banyak dan berdoa agar Allah mengaruniai ukhti kesabaran, banyak-banyak kesabaran dalam menghadapi godaan syaithan yang terkutuk.
Perbanyaklah shalat malam (tahajud) dan puasa sunnah, karena keduanya akan mampu menghadirkan sebuah rasa berpengharapan yang tinggi pada Allah sebagai Dzat Yang Maha Berkuasa dan Tidak akan pernah memberi cobaan di luar kemampuan hamba-Nya.
Mari lihat lagi semua kenangan manis yang pernah terlewati bersama dengan suami. Mari lihat lagi semua kebaikan yang pernah suami lakukan. Dan mari mengingat bahwa bisa jadi, hari ini adalah hari terakhir ukhti hidup di dunia ini. Bisa jadi, esok sang maut akan datang menjemput dan semua kehidupan yang ukhti nikmati pun berakhir. Jika sudah begitu, apakah ukhti sudah mempersembahkan yang terbaik bagi suami ukhti? Sehingga suami ukhti merasa terpuaskan dan terus mengingat kebaikan ukhti ketika hidup dengan penuh keridhaan.
Mari lakukan kesholehan, sebelum kematian datang menjemput.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
sumber: www.kafemuslimah.com
Showing posts with label bohong. Show all posts
Showing posts with label bohong. Show all posts
Tuesday, November 24, 2009
Monday, November 23, 2009
Buah Manis Kejujuran
“Yang mana anaknya? Katanya pinter yah?” Seorang ibu bertanya pada saya. Sebuah senyum tipis hadir. Ragu-ragu tapi tak mengurungkan hadirnya sebuah anggukan.
“Iya sih, kata gurunya waktu TK dulu.” Akhirnya saya memberi tanggapan dengan suara lirih. Malu-malu tapi tak luput sejumput kebanggaan memenuhi rongga dada.
“Yang mana anaknya?” Kembali suara ibu-ibu tadi terdengar penuh rasa ingin tahu. Saya pun menunjuk anak saya yang duduk di kursi di sudut kelas. Sendiri manakala sekelilingnya sudah banyak bangku yang kosong.
“Loh? Belum selesai menulis?” Saya menggeleng. Di ruang kelas I B, hanya tinggal sepuluh orang anak, dan anak saya termasuk di dalamnya. Mereka adalah anak-anak yang paling akhir menyelesaikan tugas menulis dari guru kelasnya.
“Kata ibu-ibu yang lain, anaknya sudah bisa membaca sebelum usia 4 tahun? Kok nulisnya lama banget?” Saya menatap ibu-ibu yang kini terlihat begitu cerewet di depan mata saya. Sedikit kesal.
“Iya, membaca itu kan berbeda dengan menulis bu. Lagipula, dulu dia belajar membaca dan menulis dengan bantuan komputer. Jika harus mengetik, dia cukup lumayan dibanding anak lain.”
“Ah, pinter ngetik mah buat apaan? Orang masih kelas satu kok. Sudah… Bantuin gih. Kasihan lagi. Sudah siang gini. Itu… ada banyak ibu-ibu yang ngasih tahu jawaban buat anaknya.” Yap. Tugas menulis yang sedang dilakukan anak-anak kelas satu memang bukan cuma menyalin saja, tapi sekaligus menjawab pertanyaan ringan. Hari memang sudah menjelang pukul sepuluh lewat, waktu yang terlalu siang buat anak-anak kelas satu SD seperti halnya anak saya. Di jendela kelas, memang tampak sembilan orang ibu-ibu yang saling berbisik setengah membentak untuk memotivasi anak-anaknya agar segera menyelesaikan tugas mengerjakan soalnya. Banyak di antara mereka yang selain memotivasi juga memberikan jawaban atas pertanyaan, hingga pekerjaan anaknya bisa lebih cepat terselesaikan. Beberapa bahkan ada yang mendikte anaknya sambil mulutnya tidak berhenti menggerutu dan membentak si anak. Mengingatkan anaknya bahwa ibunya belum memasak dan membereskan rumah sejak pagi.
“Ah, biarlah. Biar dia mengerjakan sendiri.” Saya akhirnya tetap memutuskan untuk menunggu Mujono anak saya di bangku semen di taman sekolah. Akhirnya satu demi satu anak-anak yang masih di kelas sudah menyelesaikan tugasnya. Kini, tinggal Mujono sendiri yang tampak terus menulis. Wajahnya sudah amat lesu dan kelelahan dan akhirnya, Mujono sendirian mengerjakan tugas dari gurunya. Ibu guru kelasnya melempar pandangan ke arah saya sambil tersenyum. Maka saya pun menghampiri ibu guru tersebut sambil tersenyum.
“Maaf yah bu, dia agak lamban mengerjakan tugasnya. Ibu guru jadi terlambat deh pulangnya.”
“Ah, nggak apa-apa. Ditungguin kok.” Pukul setengah sebelas, barulah Mujono berjalan gontai ke muka kelas dan menyerahkan buku tulisnya. Tak ada senyum di wajahnya, yang ada hanyalah wajah lesu dan kelelahan. Saya menyambutnya sambil tersenyum dan mengajaknya pulang. Di jalan, anak saya mengeluh kelelahan.
“Ibu-ibu yang lain ngasih tahu anaknya, kok ibu nggak ngasih tahu aku sih?” Akhirnya sebuah protes keluar dari mulut mungilnya. Saya langsung memeluk tubuh mungilnya dengan penuh rasa sayang.
“Karena ibu mau, kamu mendapatkan hasil secara jujur. Capek memang, tapi nggak apa-apa yah. Namanya juga belajar. Nanti lama-lama juga kamu bisa ngerjain lebih cepat lagi.” Tak ada senyum atau anggukan setuju. Yang hadir di wajahnya hanyalah wajah kelelahan. Amat kelelahan.
Akhirnya, hampir setiap hari anak saya pulang paling belakangan. Bukan hanya pulang paling belakangan, nilainya ketika selesai menyelesaikan tugas sekolah pun tidak ada yang tinggi cemerlang. Berkisar di angka enam, tujuh atau delapan, sementara teman-teman kelasnya yang lain selalu memperoleh nilai sempurna. Maka, tak heran jika semula saya selalu membanggakan anak saya sebagai anak yang pandai dan cemerlang sebelum dia bersekolah dulu, kini pujian itu tidak pernah lagi keluar dari mulut saya. Terlebih karena setiap orang bisa melihat bagaimana anak saya selalu belakangan sendiri di dalam kelas menyelesaikan tugas sekolahnya. Saya juga bisa merasakan tatapan aneh para ibu-ibu karena kekerasan hati saya yang tidak pernah tergerak untuk membantu pekerjaan Mujono. Ah, ini masalah prinsip. Jika saya membantu Mujono, itu artinya saya mengajarkan dia untuk melirik jalan pintas perbuatan tidak jujur. Bukankah pekerjaan yang diberikan oleh guru di sekolah itu diperuntukkan khusus untuk menggembleng anak murid, bukan ditujukan untuk mengajak orang tua murid berpartisipasi diam-diam di balik jendela kelas? Jadi, biarlah dia mengerjakan tugasnya sendiri, bantuan akan saya berikan di rumah, ketika dia sudah menjadi tanggung jawab saya sepenuhnya.
Hari-hari terus bergulir. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Bulan-bulan terus berubah hingga tak terasa telah berganti tahun. Sementara teman-teman Mujono berlomba untuk meraih peringkat tertinggi di kelas, Mujono tampak tidak punya ambisi itu. Dia terus tekun dan asyik dengan pekerjaannya mengerjakan tugas sekolah seorang diri, bahkan tidak peduli jika dia berhasil menyelesaikannya paling akhir. Bahkan kami tidak ingin mengikut sertakannya dalam berbagai bentuk les atau kursus tambahan. Kami ingin dia mandiri secara alami, bukan karena dikatrol dengan menggunakan berbagai kemudahan yang tersedia di sekelilingnya. Kehidupan di dunia ini bukan persoalan mudah. Jika ingin berubah, semua harus diusahakan dengan memberdayakan diri sendiri. Adalah sebuah kebiasaan buruk mencari kemudahan dengan bersandar pada bantuan orang lain dan lupa menggali potensi diri sendiri. Bukankah semua yang ada di muka bumi ini tidak ada yang bersifat abadi? Lalu, bagaimana akan berjalan seorang diri jika selama ini tidak pernah belajar untuk dapat melangkahkan kaki sendiri? Berulang kali saya tekankan pada anak saya nasehat tersebut.
“Nak, ayah dan ibu suatu hari nanti pasti akan meninggalkan dunia ini. Kamu harus belajar untuk dapat membantu dirimu sendiri, juga saudaramu. Jadi, ayo belajar. Ayah dan ibu tidak mementingkan kamu harus masuk peringkat di sekolah. Itu bukan yang utama dicari di bangku sekolah. Yang penting itu adalah, kamu mengerti ilmu yang kamu pelajar dan menyukainyai. Jika kamu mengerti, kamu insya Allah bisa mengerjakan apapun variasi soal yang diberikan dari pengembangan ilmu tersebut dan jika kamu menyukainya, maka kamu akan senantiasa melupakan sisi kesulitannya. Itu karena kamu menyukainya dan selalu mencoba mencari kemudahan yang selalu bersampiran dengan kesulitan yang datang. Jika kamu bisa dan suka mengerjakannya, kamu bisa mengajarkan orang lain, dan insya Allah itu mendatangkan pahala ibadah untukmu sendiri sebagai bekal di akherat nanti. Yang penting itu, jujur dan teruslah berusaha secara maksimal.”
Yap. Saya memang termasuk orang tua yang tidak begitu menyetujui sistem peringkat di kelas-kelas. Menurut saya, peringkat dikelas itu, hanya akan mengajarkan anak untuk terpacu meraih tempat tertinggi, memperoleh pujian, dengan menghalalkan berbagai cara. Miris rasanya melihat banyak anak berusaha meraih nilai tertinggi dengan cara menyontek. Berkerut kening ini ketika mendapati banyak orang tua yang berlomba-lomba memotivasi anak agar menduduki tempat teratas dengan menunjuki tapak jalan kecurangan. “Sudah, bayar saja si A buat ngerjain tugas bikin prakaryamu. Ketahuan hasilnya bagus, jadi nanti bisa dapat nilai bagus.” Lebih berlipat lagi kening ini ketika mendapati ada orang tua yang rela mengeluarkan beberapa tumpuk uangnya demi menutupi kegagalan anaknya. Semua karena sistem peringkat di kelas yang membuat tiap-tiap anak memperoleh sebuah cap tersendiri di keningnya guna menandai kemampuannya.
Akhirnya, tanpa terasa enam tahun sudah enam Mujono duduk di bangku sekolah dasarnya. Puncaknya tanggal 8 Juli 2005 lalu, keluarlah pengumuman hasil test seleksi penerimaan siswa di Sekolah Menengah Pertama. Deg-degan. Itu yang dirasakan bukan hanya oleh para orang tua murid di hari itu, tapi juga dirasakan oleh para siswa kelas enam dan para guru di sekolah.
Satu demi satu para murid dipanggil untuk menerima hasilnya dan puji syukur ke Hadirat Ilahi karena anak saya mendapatkan SMP unggulan yang dia inginkan dengan nilai yang amat memuaskan. Saya amat terharu, terlebih ketika berduyun-duyun para orang tua murid mendatangi dan memberikan ucapan selamat pada saya. Subhanallah wa alhamdulillah. Anak saya memang satu-satunya anak yang berhasil duduk di SMP unggulan tersebut. Tapi, sedih juga mendapati kenyataan ada lebih dari setengah kelas yang tidak mendapat SMP Negeri. Yang lebih mencengangkan, ternyata para siswa yang menduduki peringkat lima besar hanya mendapat SMP Negeri non unggulan karena perolehan nilai yang tidak melewati batas kelulusan SMP unggulan.
“Kenapa yah? Padahal dia kan dapat ranking di kelas?” Ketika pulang sekolah, pertanyaan ini tidak dapat lagi saya tahan. Kebetulan, teman-teman anak saya sedang memberi selamat pada saya atas prestasi Mujono. Mereka menatap saya dengan wajah berseri-seri.
“”Biarin saja bu. Memang itu pantas kok buat mereka.” Seorang anak perempuan kecil berkulit putih maju memberi penjelasan.
“Kenapa?”
“Karena selama ini mereka-mereka tuh pada jago nyontek semua. General test kemarin kan duduknya sendiri-sendiri, dah gitu ujiannya di sekolah lain, dah gitu yang meriksa komputer lagi. Nggak ada tempat buat jago nyontek!” Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Akhirnya, malamnya, ketika senyum belum juga bisa reda menghiasi wajah ini karena rasa gembira, saya peluk Mujono dengan penuh kasih. Lalu, lembut saya haturkan ucapan terima kasih di telinganya.
“Nak… terima kasih ya. Berusaha untuk senantiasa jujur itu memang berat, tapi kamu sekarang sedang merasakan hasil akhir yang amat manis. Besok-besok, teruslah berlaku jujur ya nak, dan terus berusaha semaksimal mungkin. Allah tidak pernah tidur atau melupakan semua usaha yang kita lakukan dengan penuh kejujuran.” Sebuah kecupan saya hadiahkan di pipinya yang masih halus seperti kulit bayi. Tak ada tanggapan, tapi kemudian saya rasakan sebuah rengkuhan erat melilit pinggang saya. Saya tahu, meski rengkuhan tangan kecil ini tidak dapat merangkul penuh tubuh gemuk saya, tapi si pemilik tangan mungil ini mengerti apa yang saya inginkan dari dirinya, kemarin, sekarang dan seterusnya.(penulis: Ade Anita)
sumber :www.kafemuslimah.com
“Iya sih, kata gurunya waktu TK dulu.” Akhirnya saya memberi tanggapan dengan suara lirih. Malu-malu tapi tak luput sejumput kebanggaan memenuhi rongga dada.
“Yang mana anaknya?” Kembali suara ibu-ibu tadi terdengar penuh rasa ingin tahu. Saya pun menunjuk anak saya yang duduk di kursi di sudut kelas. Sendiri manakala sekelilingnya sudah banyak bangku yang kosong.
“Loh? Belum selesai menulis?” Saya menggeleng. Di ruang kelas I B, hanya tinggal sepuluh orang anak, dan anak saya termasuk di dalamnya. Mereka adalah anak-anak yang paling akhir menyelesaikan tugas menulis dari guru kelasnya.
“Kata ibu-ibu yang lain, anaknya sudah bisa membaca sebelum usia 4 tahun? Kok nulisnya lama banget?” Saya menatap ibu-ibu yang kini terlihat begitu cerewet di depan mata saya. Sedikit kesal.
“Iya, membaca itu kan berbeda dengan menulis bu. Lagipula, dulu dia belajar membaca dan menulis dengan bantuan komputer. Jika harus mengetik, dia cukup lumayan dibanding anak lain.”
“Ah, pinter ngetik mah buat apaan? Orang masih kelas satu kok. Sudah… Bantuin gih. Kasihan lagi. Sudah siang gini. Itu… ada banyak ibu-ibu yang ngasih tahu jawaban buat anaknya.” Yap. Tugas menulis yang sedang dilakukan anak-anak kelas satu memang bukan cuma menyalin saja, tapi sekaligus menjawab pertanyaan ringan. Hari memang sudah menjelang pukul sepuluh lewat, waktu yang terlalu siang buat anak-anak kelas satu SD seperti halnya anak saya. Di jendela kelas, memang tampak sembilan orang ibu-ibu yang saling berbisik setengah membentak untuk memotivasi anak-anaknya agar segera menyelesaikan tugas mengerjakan soalnya. Banyak di antara mereka yang selain memotivasi juga memberikan jawaban atas pertanyaan, hingga pekerjaan anaknya bisa lebih cepat terselesaikan. Beberapa bahkan ada yang mendikte anaknya sambil mulutnya tidak berhenti menggerutu dan membentak si anak. Mengingatkan anaknya bahwa ibunya belum memasak dan membereskan rumah sejak pagi.
“Ah, biarlah. Biar dia mengerjakan sendiri.” Saya akhirnya tetap memutuskan untuk menunggu Mujono anak saya di bangku semen di taman sekolah. Akhirnya satu demi satu anak-anak yang masih di kelas sudah menyelesaikan tugasnya. Kini, tinggal Mujono sendiri yang tampak terus menulis. Wajahnya sudah amat lesu dan kelelahan dan akhirnya, Mujono sendirian mengerjakan tugas dari gurunya. Ibu guru kelasnya melempar pandangan ke arah saya sambil tersenyum. Maka saya pun menghampiri ibu guru tersebut sambil tersenyum.
“Maaf yah bu, dia agak lamban mengerjakan tugasnya. Ibu guru jadi terlambat deh pulangnya.”
“Ah, nggak apa-apa. Ditungguin kok.” Pukul setengah sebelas, barulah Mujono berjalan gontai ke muka kelas dan menyerahkan buku tulisnya. Tak ada senyum di wajahnya, yang ada hanyalah wajah lesu dan kelelahan. Saya menyambutnya sambil tersenyum dan mengajaknya pulang. Di jalan, anak saya mengeluh kelelahan.
“Ibu-ibu yang lain ngasih tahu anaknya, kok ibu nggak ngasih tahu aku sih?” Akhirnya sebuah protes keluar dari mulut mungilnya. Saya langsung memeluk tubuh mungilnya dengan penuh rasa sayang.
“Karena ibu mau, kamu mendapatkan hasil secara jujur. Capek memang, tapi nggak apa-apa yah. Namanya juga belajar. Nanti lama-lama juga kamu bisa ngerjain lebih cepat lagi.” Tak ada senyum atau anggukan setuju. Yang hadir di wajahnya hanyalah wajah kelelahan. Amat kelelahan.
Akhirnya, hampir setiap hari anak saya pulang paling belakangan. Bukan hanya pulang paling belakangan, nilainya ketika selesai menyelesaikan tugas sekolah pun tidak ada yang tinggi cemerlang. Berkisar di angka enam, tujuh atau delapan, sementara teman-teman kelasnya yang lain selalu memperoleh nilai sempurna. Maka, tak heran jika semula saya selalu membanggakan anak saya sebagai anak yang pandai dan cemerlang sebelum dia bersekolah dulu, kini pujian itu tidak pernah lagi keluar dari mulut saya. Terlebih karena setiap orang bisa melihat bagaimana anak saya selalu belakangan sendiri di dalam kelas menyelesaikan tugas sekolahnya. Saya juga bisa merasakan tatapan aneh para ibu-ibu karena kekerasan hati saya yang tidak pernah tergerak untuk membantu pekerjaan Mujono. Ah, ini masalah prinsip. Jika saya membantu Mujono, itu artinya saya mengajarkan dia untuk melirik jalan pintas perbuatan tidak jujur. Bukankah pekerjaan yang diberikan oleh guru di sekolah itu diperuntukkan khusus untuk menggembleng anak murid, bukan ditujukan untuk mengajak orang tua murid berpartisipasi diam-diam di balik jendela kelas? Jadi, biarlah dia mengerjakan tugasnya sendiri, bantuan akan saya berikan di rumah, ketika dia sudah menjadi tanggung jawab saya sepenuhnya.
Hari-hari terus bergulir. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Bulan-bulan terus berubah hingga tak terasa telah berganti tahun. Sementara teman-teman Mujono berlomba untuk meraih peringkat tertinggi di kelas, Mujono tampak tidak punya ambisi itu. Dia terus tekun dan asyik dengan pekerjaannya mengerjakan tugas sekolah seorang diri, bahkan tidak peduli jika dia berhasil menyelesaikannya paling akhir. Bahkan kami tidak ingin mengikut sertakannya dalam berbagai bentuk les atau kursus tambahan. Kami ingin dia mandiri secara alami, bukan karena dikatrol dengan menggunakan berbagai kemudahan yang tersedia di sekelilingnya. Kehidupan di dunia ini bukan persoalan mudah. Jika ingin berubah, semua harus diusahakan dengan memberdayakan diri sendiri. Adalah sebuah kebiasaan buruk mencari kemudahan dengan bersandar pada bantuan orang lain dan lupa menggali potensi diri sendiri. Bukankah semua yang ada di muka bumi ini tidak ada yang bersifat abadi? Lalu, bagaimana akan berjalan seorang diri jika selama ini tidak pernah belajar untuk dapat melangkahkan kaki sendiri? Berulang kali saya tekankan pada anak saya nasehat tersebut.
“Nak, ayah dan ibu suatu hari nanti pasti akan meninggalkan dunia ini. Kamu harus belajar untuk dapat membantu dirimu sendiri, juga saudaramu. Jadi, ayo belajar. Ayah dan ibu tidak mementingkan kamu harus masuk peringkat di sekolah. Itu bukan yang utama dicari di bangku sekolah. Yang penting itu adalah, kamu mengerti ilmu yang kamu pelajar dan menyukainyai. Jika kamu mengerti, kamu insya Allah bisa mengerjakan apapun variasi soal yang diberikan dari pengembangan ilmu tersebut dan jika kamu menyukainya, maka kamu akan senantiasa melupakan sisi kesulitannya. Itu karena kamu menyukainya dan selalu mencoba mencari kemudahan yang selalu bersampiran dengan kesulitan yang datang. Jika kamu bisa dan suka mengerjakannya, kamu bisa mengajarkan orang lain, dan insya Allah itu mendatangkan pahala ibadah untukmu sendiri sebagai bekal di akherat nanti. Yang penting itu, jujur dan teruslah berusaha secara maksimal.”
Yap. Saya memang termasuk orang tua yang tidak begitu menyetujui sistem peringkat di kelas-kelas. Menurut saya, peringkat dikelas itu, hanya akan mengajarkan anak untuk terpacu meraih tempat tertinggi, memperoleh pujian, dengan menghalalkan berbagai cara. Miris rasanya melihat banyak anak berusaha meraih nilai tertinggi dengan cara menyontek. Berkerut kening ini ketika mendapati banyak orang tua yang berlomba-lomba memotivasi anak agar menduduki tempat teratas dengan menunjuki tapak jalan kecurangan. “Sudah, bayar saja si A buat ngerjain tugas bikin prakaryamu. Ketahuan hasilnya bagus, jadi nanti bisa dapat nilai bagus.” Lebih berlipat lagi kening ini ketika mendapati ada orang tua yang rela mengeluarkan beberapa tumpuk uangnya demi menutupi kegagalan anaknya. Semua karena sistem peringkat di kelas yang membuat tiap-tiap anak memperoleh sebuah cap tersendiri di keningnya guna menandai kemampuannya.
Akhirnya, tanpa terasa enam tahun sudah enam Mujono duduk di bangku sekolah dasarnya. Puncaknya tanggal 8 Juli 2005 lalu, keluarlah pengumuman hasil test seleksi penerimaan siswa di Sekolah Menengah Pertama. Deg-degan. Itu yang dirasakan bukan hanya oleh para orang tua murid di hari itu, tapi juga dirasakan oleh para siswa kelas enam dan para guru di sekolah.
Satu demi satu para murid dipanggil untuk menerima hasilnya dan puji syukur ke Hadirat Ilahi karena anak saya mendapatkan SMP unggulan yang dia inginkan dengan nilai yang amat memuaskan. Saya amat terharu, terlebih ketika berduyun-duyun para orang tua murid mendatangi dan memberikan ucapan selamat pada saya. Subhanallah wa alhamdulillah. Anak saya memang satu-satunya anak yang berhasil duduk di SMP unggulan tersebut. Tapi, sedih juga mendapati kenyataan ada lebih dari setengah kelas yang tidak mendapat SMP Negeri. Yang lebih mencengangkan, ternyata para siswa yang menduduki peringkat lima besar hanya mendapat SMP Negeri non unggulan karena perolehan nilai yang tidak melewati batas kelulusan SMP unggulan.
“Kenapa yah? Padahal dia kan dapat ranking di kelas?” Ketika pulang sekolah, pertanyaan ini tidak dapat lagi saya tahan. Kebetulan, teman-teman anak saya sedang memberi selamat pada saya atas prestasi Mujono. Mereka menatap saya dengan wajah berseri-seri.
“”Biarin saja bu. Memang itu pantas kok buat mereka.” Seorang anak perempuan kecil berkulit putih maju memberi penjelasan.
“Kenapa?”
“Karena selama ini mereka-mereka tuh pada jago nyontek semua. General test kemarin kan duduknya sendiri-sendiri, dah gitu ujiannya di sekolah lain, dah gitu yang meriksa komputer lagi. Nggak ada tempat buat jago nyontek!” Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Akhirnya, malamnya, ketika senyum belum juga bisa reda menghiasi wajah ini karena rasa gembira, saya peluk Mujono dengan penuh kasih. Lalu, lembut saya haturkan ucapan terima kasih di telinganya.
“Nak… terima kasih ya. Berusaha untuk senantiasa jujur itu memang berat, tapi kamu sekarang sedang merasakan hasil akhir yang amat manis. Besok-besok, teruslah berlaku jujur ya nak, dan terus berusaha semaksimal mungkin. Allah tidak pernah tidur atau melupakan semua usaha yang kita lakukan dengan penuh kejujuran.” Sebuah kecupan saya hadiahkan di pipinya yang masih halus seperti kulit bayi. Tak ada tanggapan, tapi kemudian saya rasakan sebuah rengkuhan erat melilit pinggang saya. Saya tahu, meski rengkuhan tangan kecil ini tidak dapat merangkul penuh tubuh gemuk saya, tapi si pemilik tangan mungil ini mengerti apa yang saya inginkan dari dirinya, kemarin, sekarang dan seterusnya.(penulis: Ade Anita)
sumber :www.kafemuslimah.com
Ibuku Seorang Pembohong
Sukar untuk orang lain percaya,tapi itulah yang terjadi, ibu
saya memang seorang pembohong!! Sepanjang ingatan saya
sekurang-kurangnya 8 kali ibu membohongi saya. Saya perlu catatkan segala pembohongan itu untuk dijadikan renungan anda sekalian.
Cerita ini bermula ketika saya masih kecil. Saya lahir sebagai seorang anak lelaki dalam sebuah keluarga sederhana. Makan minum serba kekurangan.
Kami sering kelaparan. Adakalanya, selama beberapa hari kami terpaksa makan ikan asin satu keluarga. Sebagai anak yang masih kecil, saya sering merengut. Saya menangis, ingin nasi dan lauk yang banyak. Tapi ibu pintar berbohong. Ketika makan, ibu sering membagikan nasinya untuk saya. Sambil memindahkan nasi ke mangkuk saya, ibu berkata : “”Makanlah nak ibu tak lapar.”
–PEMBOHONGAN IBU YANG PERTAMA.
Ketika saya mulai besar, ibu yang gigih sering meluangkan watu senggangnya untuk pergi memancing di sungai sebelah rumah. Ibu berharap dari ikan hasil pancingan itu dapat memberikan sedikit makanan untuk membesarkan kami. Pulang dari memancing, ibu memasak ikan segar yang mengundang selera. Sewaktu saya memakan ikan itu, ibu duduk disamping kami dan memakan sisa daging ikan yang
masih menempel di tulang bekas sisa ikan yang saya makan tadi. Saya sedih melihat ibu seperti itu. Hati saya tersentuh lalu memberikan ikan yg belum saya makan kepada ibu. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya. Ibu berkata : “Makanlah nak, ibu tak suka makan ikan.”
– PEMBOHONGAN IBU YANG KEDUA.
Di awal remaja, saya masuk sekolah menengah. Ibu biasa membuat kue untuk dijual sebagai tambahan uang saku saya dan abang. Suatu saat, pada dinihari lebih kurang pukul 1.30 pagi saya terjaga dari tidur. Saya melihat ibu membuat kue dengan ditemani lilin di hadapannya. Beberapa kali saya melihat kepala ibu terangguk karena ngantuk. Saya berkata : “Ibu, tidurlah, esok pagi ibu kan pergi ke kebun pula.” Ibu tersenyum dan berkata : “Cepatlah tidur nak, ibu belum ngantuk.”
– PEMBOHONGAN IBU YANG KETIGA.
Di akhir masa ujian sekolah saya, ibu tidak pergi berjualan kue seperti biasa supaya dapat menemani saya pergi ke sekolah untuk turut menyemangati. Ketika hari sudah siang, terik panas matahari mulai menyinari, ibu terus sabar menunggu saya di luar. Ibu seringkali saja tersenyum dan mulutnya komat-kamit berdoa kepada Illahi agar saya lulus ujian dengan cemerlang. Ketika lonceng berbunyi menandakan ujian sudah selesai, ibu dengan segera menyambut saya dan menuangkan kopi yang sudah disiapkan dalam botol yang dibawanya. Kopi yang kental itu tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang ibu yang jauh lebih kental. Melihat tubuh ibu yang dibasahi peluh, saya segera memberikan cawan saya itu kepada ibu dan menyuruhnya minum. Tapi ibu cepat-cepat menolaknya dan berkata : “Minumlah nak, ibu tak haus!!”
– PEMBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT.
Setelah ayah meninggal karena sakit, selepas saya baru beberapa bulan dilahirkan, ibulah yang mengambil tugas sebagai ayah kepada kami sekeluarga. Ibu bekerja memetik cengkeh di kebun, membuat sapu lidi dan menjual kue-kue agar kami tidak kelaparan. Tapi apalah daya seorang ibu. Kehidupan keluarga kami semakin susah dan susah.
Melihat keadaan keluarga yang semakin parah, seorang tetangga yang baik hati dan tinggal bersebelahan dengan kami, datang untuk membantu ibu. Anehnya, ibu menolak bantuan itu… Para tetangga sering kali menasihati ibu supaya menikah lagi agar ada seorang lelaki yang menjaga dan mencarikan nafkah untuk kami sekeluarga.. Tetapi ibu yang keras hatinya tidak mengindahkan nasihat mereka. Ibu berkata : “Saya tidak perlu cinta dan saya tidak perlu laki-laki.”
– PEMBOHONGAN IBU YANG KELIMA.
Setelah kakak-kakak saya tamat sekolah dan mulai bekerja, ibu pun sudahtua. Kakak-kakak saya menyuruh ibu supaya istirahat saja di rumah. Tidak lagi bersusah payah untuk mencari uang. Tetapi ibu tidak mau. Ibu rela pergi ke pasar setiap pagi menjual sedikit sayur untuk memenuhi keperluan hidupnya. Kakak dan abang yang bekerja jauh di kota besar sering mengirimkan uang untuk membantu memenuhi keperluan ibu, pun begitu ibu tetap berkeras tidak mau menerima uang tersebut. Malah ibu mengirim balik uang itu, dan ibu berkata : “Jangan susah-susah, ibu ada uang.”
– PEMBOHONGAN IBU YANG KEENAM.
Setelah lulus kuliah, saya melanjutkan lagi untuk mengejar gelar sarjana di luar Negeri. Kebutuhan saya di sana dibiayai sepenuhnya oleh sebuah perusahaan besar. Gelar sarjana itu saya sudahi dengan cemerlang, kemudian saya pun bekerja dengan perusahaan yang telah membiayai sekolah saya di luar negeri. Dengan gaji yang agak lumayan, saya berniat membawa ibu untuk menikmati penghujung hidupnya bersama saya di luar negara. Menurut hemat saya, ibu sudah puas bersusah payah untuk kami. Hampir seluruh hidupnya habis dengan penderitaan, pantaslah kalau hari-hari tuanya ibu habiskan dengan keceriaan dan keindahan pula. Tetapi ibu yang baik hati, menolak ajakan saya. Ibu tidak mau menyusahkan anaknya ini dengan berkata ; “Tak usahlah nak, ibu tak bisa tinggal di negara orang.”
– PEMBOHONGAN IBU YANG KETUJUH.
Beberapa tahun berlalu, ibu semakin tua. Suatu malam saya menerima berita ibu diserang penyakit kanker di leher, yang akarnya telah menjalar kemana-mana. Ibu mesti dioperasi secepat mungkin. Saya yang ketika itu berada jauh diseberang samudera segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Saya melihat ibu terbaring lemah di rumah sakit, setelah menjalani pembedahan. Ibu yang kelihatan sangat tua, menatap wajah saya dengan penuh kerinduan. Ibu menghadiahkan saya sebuah senyuman biarpun agak kaku karena terpaksa menahan sakit yang menjalari setiap inci tubuhnya. Saya dapat melihat dengan jelas betapa kejamnya penyakit itu telah menggerogoti tubuh ibu, sehingga ibu menjadi terlalu lemah dan kurus. Saya menatap wajah ibu sambil berlinangan air mata. Saya cium tangan ibu kemudian saya kecup pula pipi dan dahinya. Di saat itu hati saya terlalu pedih, sakit sekali melihat ibu dalam keadaan seperti ini. Tetapi ibu tetap tersenyum dan berkata : “Jangan menangis nak, ibu tak sakit.”
– PEMBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.
Setelah mengucapkan pembohongan yang kedelapan itu, ibunda tercinta menutup matanya untuk terakhir kali. Dibalik kebohongannya, tersimpan cintanya yang begitu besar bagi anak2nya. Anda beruntung karena masih mempunyai orangtua… Anda boleh memeluk dan menciumnya. Kalau orangtua anda jauh dari mata, anda boleh menelponnya sekarang, dan berkata, ‘Ibu / Ayah,saya sayang ibu / ayah.’ Tapi tidak saya, hingga kini saya diburu rasa bersalah yang amat sangat karena biarpun saya mengasihi ibu lebih dari segala-galanya, tapi tidak pernah sekalipun saya membisikkan kata-kata itu ke telinga ibu, sampailah saat ibu menghembuskan nafasnya yang terakhir. Ibu, maafkan saya. Saya sayang ibu….…
“Ada satu KISAH pada jaman Rasulullah SAW, seorang sahabat bertanya kepada Rasul, ” Ya, Rasulullah, saya membawa Ibu saya dgn cara Menggendongnya (dr daerahnya yg jarak tempuhnya lbh krg 2 bulan berjalan kaki) ke Tanah Suci ini (Mekkah-utk Berhaji), apakah saya sdh dpt membalas budi kpd Ibu saya. Rasulullah bertanya :”Apakah dlm perjalananmu ada … tetes darah yg keluar dr Tubuhmu?”, “Tidak”, jawab sahabat. Rasulullah Berkata :”Tahukah kamu berapa Tetes darah yg dikeluarkan Ibumu disaat ia melahirkanmu, dan berapa Tetes air susu yg telah diberikannya kepadamu”.
sumber : www.kafemuslimah.com
saya memang seorang pembohong!! Sepanjang ingatan saya
sekurang-kurangnya 8 kali ibu membohongi saya. Saya perlu catatkan segala pembohongan itu untuk dijadikan renungan anda sekalian.
Cerita ini bermula ketika saya masih kecil. Saya lahir sebagai seorang anak lelaki dalam sebuah keluarga sederhana. Makan minum serba kekurangan.
Kami sering kelaparan. Adakalanya, selama beberapa hari kami terpaksa makan ikan asin satu keluarga. Sebagai anak yang masih kecil, saya sering merengut. Saya menangis, ingin nasi dan lauk yang banyak. Tapi ibu pintar berbohong. Ketika makan, ibu sering membagikan nasinya untuk saya. Sambil memindahkan nasi ke mangkuk saya, ibu berkata : “”Makanlah nak ibu tak lapar.”
–PEMBOHONGAN IBU YANG PERTAMA.
Ketika saya mulai besar, ibu yang gigih sering meluangkan watu senggangnya untuk pergi memancing di sungai sebelah rumah. Ibu berharap dari ikan hasil pancingan itu dapat memberikan sedikit makanan untuk membesarkan kami. Pulang dari memancing, ibu memasak ikan segar yang mengundang selera. Sewaktu saya memakan ikan itu, ibu duduk disamping kami dan memakan sisa daging ikan yang
masih menempel di tulang bekas sisa ikan yang saya makan tadi. Saya sedih melihat ibu seperti itu. Hati saya tersentuh lalu memberikan ikan yg belum saya makan kepada ibu. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya. Ibu berkata : “Makanlah nak, ibu tak suka makan ikan.”
– PEMBOHONGAN IBU YANG KEDUA.
Di awal remaja, saya masuk sekolah menengah. Ibu biasa membuat kue untuk dijual sebagai tambahan uang saku saya dan abang. Suatu saat, pada dinihari lebih kurang pukul 1.30 pagi saya terjaga dari tidur. Saya melihat ibu membuat kue dengan ditemani lilin di hadapannya. Beberapa kali saya melihat kepala ibu terangguk karena ngantuk. Saya berkata : “Ibu, tidurlah, esok pagi ibu kan pergi ke kebun pula.” Ibu tersenyum dan berkata : “Cepatlah tidur nak, ibu belum ngantuk.”
– PEMBOHONGAN IBU YANG KETIGA.
Di akhir masa ujian sekolah saya, ibu tidak pergi berjualan kue seperti biasa supaya dapat menemani saya pergi ke sekolah untuk turut menyemangati. Ketika hari sudah siang, terik panas matahari mulai menyinari, ibu terus sabar menunggu saya di luar. Ibu seringkali saja tersenyum dan mulutnya komat-kamit berdoa kepada Illahi agar saya lulus ujian dengan cemerlang. Ketika lonceng berbunyi menandakan ujian sudah selesai, ibu dengan segera menyambut saya dan menuangkan kopi yang sudah disiapkan dalam botol yang dibawanya. Kopi yang kental itu tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang ibu yang jauh lebih kental. Melihat tubuh ibu yang dibasahi peluh, saya segera memberikan cawan saya itu kepada ibu dan menyuruhnya minum. Tapi ibu cepat-cepat menolaknya dan berkata : “Minumlah nak, ibu tak haus!!”
– PEMBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT.
Setelah ayah meninggal karena sakit, selepas saya baru beberapa bulan dilahirkan, ibulah yang mengambil tugas sebagai ayah kepada kami sekeluarga. Ibu bekerja memetik cengkeh di kebun, membuat sapu lidi dan menjual kue-kue agar kami tidak kelaparan. Tapi apalah daya seorang ibu. Kehidupan keluarga kami semakin susah dan susah.
Melihat keadaan keluarga yang semakin parah, seorang tetangga yang baik hati dan tinggal bersebelahan dengan kami, datang untuk membantu ibu. Anehnya, ibu menolak bantuan itu… Para tetangga sering kali menasihati ibu supaya menikah lagi agar ada seorang lelaki yang menjaga dan mencarikan nafkah untuk kami sekeluarga.. Tetapi ibu yang keras hatinya tidak mengindahkan nasihat mereka. Ibu berkata : “Saya tidak perlu cinta dan saya tidak perlu laki-laki.”
– PEMBOHONGAN IBU YANG KELIMA.
Setelah kakak-kakak saya tamat sekolah dan mulai bekerja, ibu pun sudahtua. Kakak-kakak saya menyuruh ibu supaya istirahat saja di rumah. Tidak lagi bersusah payah untuk mencari uang. Tetapi ibu tidak mau. Ibu rela pergi ke pasar setiap pagi menjual sedikit sayur untuk memenuhi keperluan hidupnya. Kakak dan abang yang bekerja jauh di kota besar sering mengirimkan uang untuk membantu memenuhi keperluan ibu, pun begitu ibu tetap berkeras tidak mau menerima uang tersebut. Malah ibu mengirim balik uang itu, dan ibu berkata : “Jangan susah-susah, ibu ada uang.”
– PEMBOHONGAN IBU YANG KEENAM.
Setelah lulus kuliah, saya melanjutkan lagi untuk mengejar gelar sarjana di luar Negeri. Kebutuhan saya di sana dibiayai sepenuhnya oleh sebuah perusahaan besar. Gelar sarjana itu saya sudahi dengan cemerlang, kemudian saya pun bekerja dengan perusahaan yang telah membiayai sekolah saya di luar negeri. Dengan gaji yang agak lumayan, saya berniat membawa ibu untuk menikmati penghujung hidupnya bersama saya di luar negara. Menurut hemat saya, ibu sudah puas bersusah payah untuk kami. Hampir seluruh hidupnya habis dengan penderitaan, pantaslah kalau hari-hari tuanya ibu habiskan dengan keceriaan dan keindahan pula. Tetapi ibu yang baik hati, menolak ajakan saya. Ibu tidak mau menyusahkan anaknya ini dengan berkata ; “Tak usahlah nak, ibu tak bisa tinggal di negara orang.”
– PEMBOHONGAN IBU YANG KETUJUH.
Beberapa tahun berlalu, ibu semakin tua. Suatu malam saya menerima berita ibu diserang penyakit kanker di leher, yang akarnya telah menjalar kemana-mana. Ibu mesti dioperasi secepat mungkin. Saya yang ketika itu berada jauh diseberang samudera segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Saya melihat ibu terbaring lemah di rumah sakit, setelah menjalani pembedahan. Ibu yang kelihatan sangat tua, menatap wajah saya dengan penuh kerinduan. Ibu menghadiahkan saya sebuah senyuman biarpun agak kaku karena terpaksa menahan sakit yang menjalari setiap inci tubuhnya. Saya dapat melihat dengan jelas betapa kejamnya penyakit itu telah menggerogoti tubuh ibu, sehingga ibu menjadi terlalu lemah dan kurus. Saya menatap wajah ibu sambil berlinangan air mata. Saya cium tangan ibu kemudian saya kecup pula pipi dan dahinya. Di saat itu hati saya terlalu pedih, sakit sekali melihat ibu dalam keadaan seperti ini. Tetapi ibu tetap tersenyum dan berkata : “Jangan menangis nak, ibu tak sakit.”
– PEMBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.
Setelah mengucapkan pembohongan yang kedelapan itu, ibunda tercinta menutup matanya untuk terakhir kali. Dibalik kebohongannya, tersimpan cintanya yang begitu besar bagi anak2nya. Anda beruntung karena masih mempunyai orangtua… Anda boleh memeluk dan menciumnya. Kalau orangtua anda jauh dari mata, anda boleh menelponnya sekarang, dan berkata, ‘Ibu / Ayah,saya sayang ibu / ayah.’ Tapi tidak saya, hingga kini saya diburu rasa bersalah yang amat sangat karena biarpun saya mengasihi ibu lebih dari segala-galanya, tapi tidak pernah sekalipun saya membisikkan kata-kata itu ke telinga ibu, sampailah saat ibu menghembuskan nafasnya yang terakhir. Ibu, maafkan saya. Saya sayang ibu….…
“Ada satu KISAH pada jaman Rasulullah SAW, seorang sahabat bertanya kepada Rasul, ” Ya, Rasulullah, saya membawa Ibu saya dgn cara Menggendongnya (dr daerahnya yg jarak tempuhnya lbh krg 2 bulan berjalan kaki) ke Tanah Suci ini (Mekkah-utk Berhaji), apakah saya sdh dpt membalas budi kpd Ibu saya. Rasulullah bertanya :”Apakah dlm perjalananmu ada … tetes darah yg keluar dr Tubuhmu?”, “Tidak”, jawab sahabat. Rasulullah Berkata :”Tahukah kamu berapa Tetes darah yg dikeluarkan Ibumu disaat ia melahirkanmu, dan berapa Tetes air susu yg telah diberikannya kepadamu”.
sumber : www.kafemuslimah.com
Subscribe to:
Posts (Atom)